Sabtu, 21 Januari 2012

KBAT Birrul Walidain Konser di Aldiyo Music Course

Hari Jum’at, 16 Desember 2011 menutup serangkaian kegiatan PPL di semester satu, KBAT Birrul Walidain melaksanakan PPL (Program Pengenalan Lingkungan) di Aldiyo Music Course and Studio

Titik-titik hujan membasahi di pagi hari, beruntung anak-anak melaksanakan PPL secara indoor, sesuai perkiraan kami. Sejak pagi mereka siap menghafal lagu yang akan mereka pentaskan di Aldiyo. Mereka sangat bersemangat karena ini merupakan kali pertama anak-anak pentas.

Sampai di lokasi anak-anak makin bersemangat melihat banyak alat musik. Apalagi setelah diputarkan slide dimana alat musik ternyata bisa dimainkan oleh anak-anak.

Alhasil, rasanya waktu 10 menit memasuki tiap ruangan masih kurang bagi anak-anak. Meski bu Heni telah meniup peluit tanda selesai masuk di tiap ruangan, anak-anak tak beranjak. Maka mohon maaf kepada para orang tua karena pulangnya agak molor.

Acara diakhiri dengan menyanyi bersama lagu “Bermain Musik” yang dipopulerkan oleh Sherina. Anak-anak bebas menari dan bernyanyi bersama. Dan lagu Ilalliqo’ pun menutup acara hari itu. Wah senangnya..(Bu Helida dan Bu Ida)

Asyiknya Belajar di Sentra Bahan Alam Cair

KINI saatnya sentra Bahan Alam Cair yang akan kita bahas dan diampu oleh Ibu Uud.
Bahan Alam Cair merupakan salah satu sentra/bentuk pembelajaran BCCT (Beyond Center of Circle Time) yang kami ajarkan di KBAT Birrul Walidain. Sentra ini mengenalkan bahan sifat cair dan benda alam di sekitar kita serta pengenalan sains.
Secara tidak langsung anak belajar sambil bermain seperti pengenalan konsep warna (warna dasar yakni merah, kuning, biru) dan pencampuran warna sehingga akan menghasilkan perubahan warna yang nyata pada saat anak bermain.
Selain bermain air , ada juga bermain pasir tetapi akan kami sampaikan pada semester 2 nanti, karena perlu diajarkan aturan per-mainannya sehingga tak ter-jadi hal-hal yang tak kita inginkan.
Manfaat bermain pasir diantaranya anak dapat belajar dan bermain konsep kasar dan halus dan membangun imajinasi anak dalam membentuk pasir .
Untuk itu anak perlu memakai baju ganti (bukan seragam) agar anak dapat bermain dengan enjoy dan all out, tanpa takut seragamnya kotor.
Bermain plastisin berguna untuk mengembangkan imajinasi dan merangsang motorik halusnya yang pada akhirnya diperlukan untuk memegang alat tulis dengan baik.
Saat bermain di sentra Bahan Alam Cair anak harus benar-benar bebas berekspresi dan menikmati sesuai dengan kemasan mainan yang kami sampaikan. (Bu Uut)

Minggu, 15 Januari 2012

KIAT ATASI KEBIASAAN BURUK ANAK

Awalnya lucu melihat si kecil mengisap jempolnya. Tapi, lama kelamaan kok sulit ya menghentikannya? Apa saja kebiasaan si kecil yang sering dikeluhkan orang tua? Akan kita bahas satu persatu.

1. Menggigit Kuku
Menggigit kuku kadang merupakan perpanjangan dari kebiasaan mengisap ibu jari. Kebiasaan ini ketika dewasa bisa beralih menjadi kebiasaan merokok, makan permen karet,mengorek hidung atau memainkan rambut. Menurut ahli, kebiasaan buruk ini adalah ekspresi dari kegelisahan, rasa tertekan, kecewa dan kemarahan. Carilah penyebabnya dulu.
Solusi: Beri pengertian kepada anak tentang akibat buruk menggigit kuku dan penyakit yang dapat timbul karena kebiasaan ini. Mengalihkan kebiasaan tersebut pada bentuk permainan dengan teman sebaya.

2. Mengamuk (temper tantrum)
Mengamuk umum terjadi saat anak usia 3-12 tahun, lebih sering pada anak laki-laki. Anak menjerit, memukul, menendang, menjatuhkan badan ke lantai, emukul kepala atau melempar barang. Penyebabnya bisa karena meniru orang tua atau kepribadian anak sendiri (bossy, aktif dan energik), ketakutan luar biasa, ketidakcocokan dengan orang tua saat anak sedang berkembang pribadinya, orangtua yang terlalu over protektif, yidak konsisten, faktor keturunan, kecemburuan pada saudara, dan sebagainya.
Solusi: Jangan penuhi keinginannya bila si kecil tantrum, biarkan saja. Begitu anak menyadari tak mendapat apa-apa, tantrum akan berhenti. Mungkin saja cara ini tak berhasil, yang penting orang tua harus sabar, jangan tergesa-gesa mengambil sikap, misalnya karena malu dilihat orang. Ingat, orangtua sebaiknya selalu konsisten.

3. Gagap
"A....ayah, mmmau booola," mungkin anda pernah melihat anak yang begitu sult bicara. Dikatakan gagap bila anak mengalami kelainan irama atau kelancaran bicara yang disebabkan adanya pengulangan, perpanjangan suara, kata atau suku kata. Gagap biasa terjadi pada usia 2-3 tahun dan 5-7 tahun.Seringkali disertaidengan mengedip-ngedipkan mata atau menggoyang kepala.
Gagap sebenarnya bagian dari perkembangan bahasa yang normal, tetapi bila berlanjut atau berlebihan bisa jadi ada faktor lain seperti gangguan emosi anak dengan orang tua yang perfeksionis. Bisa pula ada faktor keturunan atau kelainan organ seperti lidah yang pendek dan kaku.
Solusi: Jangan terlalu memaksa anak atau memarahi anak bila gagapnya kambuh. Dengarkan ia denga sabar, tidak memberondongnya dengan pertanyaan atau kata-kata. Tumbuhkan rasa percaya dirinya terutama saat ia bergaul dengan teman-teman sebaya. Bila gagap muncul pada anak setelah usia sekolah, mungkin diperlukan terapi lebih lanjut dengan ahli wicara atau psikoterapis.

4. Elective Mutism
Anak disebut berperilaku elective mutism bila ia memaksa dirinya secara mental dan fisik untuk tidak bicara pada orang-orang tertentu yang asing baginya. Sering terjadi pada usia 3-5 tahun. Penyebabnya bisa karena anak dipisahkan denga keluarga (misalnya akanmasuk sekolah), anak sangat tergantung ibu atau terdapat pengalaman traumatis sebelumnya. YAng terpenting mencari pencetus mengapa anak bersikap demikian, dan atasi penyebabnya. (Sumber: MAjalah Maudi)

Jumat, 30 Desember 2011

Anak-Anak KBAT Birrul Walidain Memerah Susu

Hari Selasa, 15 November 2011 KBAT Birrul Walidain melaksanakan Program pengenalan lingkungan [PPL] ke Susu Moeria. Seperti biasa saat PPL anak-anak bersemangat untuk belajar diluar ruangan. Anak-anakpun melakukan persiapan dengan kepatuhannya seperti pipis dulu sebelum berangkat, berbaris dengan rapi dan lagu "sapi" mengiringi langkah kaki-kaki kecil ini menuju lokasi.

Sampai di lokasi semangat tak jua surut. Anak-anak segera melihat sapi langsung dari kandangnya yang tengah makan rumput. Lalu bu Opik memberikan pengarahan. Dan saat yang ditunggupun tiba, yakni minum susu sapi.

Usai minum susu,saatnya belajar memerah susu sapi. Meski beberapa anak takut dan risih tetapi tetap saja ada anak yang berani.

Pulangnya selain oleh-oleh berupa cerita menarik seputar PPL, anak-anak masih membawa susu dalam kemasan gelas. (Bu Helida dan Bu Heni)

Selasa, 06 Desember 2011

Mengajak KBAT Birrul Walidain Gemar Membaca

Pada Jum'at, 21 Oktober 2011 peserta didik KBAT Birrul Walidain melaksanakan PPL diperpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Kudus. Alhamdulillah meskipun di awal keberangkatan langit sempat terlihat mendung, namun tidak menyurutkan semangat anak-anak untuk berangkat ber-PPL mencari buku yang disukai.

Sesampainya disana anak-anak disambut penuh keramahan oleh petugas. Setelah mendengarkan samutan dan pengarahan dari salah satupegawai perpustakaan, anak-anak pun langsung menyeru rak-rak penuh uku yang telah menanti mereka. Sssttt.....saat di perpustakaan anak-anak juga belajar mengendalikan suara lho.

Beberapa anak saling memperlihatkan gambar pada buku yang telah dipilihnya. Sebagian lagi ada yang mendengarkan cerita dari bu guru.

Di tengah deasnya arus informasi dan teknologi kami harapkan anak-anak tetap mencintai dan suka membaca buku. Dan perpustakaan adalah sarana, tempat untuk mencari tambahan pengetahuan. Selamat membaca sayang.....(Bu Aulia)

Belajar Beradaptasi Pada Anak Usia Dini

Tidak semua anak mulai memasuki lembaga pendidikan pada waktu yang bersamaan. Di Inggris, biasanya anak mulai masuk SD usia 4 atau 5 tahun. Tapi, di negara-negara lainnya biasanya mencapai usia 6 tahun atau lebih.

Masa transisi dari rumah atau tempat penitipan anak ke lingkungan pendidikan yang lebih terstruktur bisa menjadi periode yang melelahkan, dan juga menggelisahkan agi orang tua.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah apakah anak kita benar-benar sudah siap sekolah. Kita perlu memberinya banyak dukungan serta ketenangan. Pahamilah bahwa rasa takut anak merupakan tanda normal dari perkembangan ikatan serta emosi yang sehat.

Sebuah lingkungan rumah yang kondusif mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan anak.Tetapi, untuk perkembangan emosi serta kognisi yang sehat, ada baiknya dia berada di dekat anak-anak berusia sebaya.

Jika si kecil berada di rumah bersama Anda, bukan di penitipan anak ataupun sekolah, pastikan ia memiliki interaksi teratur da kesempatan untuk bergaul dengan anak-anak lainnya.

Sedikit tips agar anak nyaman bergaul:
1. Bawalah dia ke kelompok ermai dan ruang kelasnya sebelum hari pertamanya agar sudah memiliki sedikit bayangan.
2. Jadikan memasuki kelompok bermain adalah peristiwa yang patut dirayakan. Membelikan anak sebuah tas, buku, atau krayon membuatnya merasa sebagai anak sekolah.
3. Yakinkan anak anda dengan memberi tahu secara jelas siapa yang akan menjemputnya, kapan dan tentunya memastikan anda akan datang tepat waktu.
4. Biarkan ia membawa benda penenang favoritnya jika ia mau, yang dapat membantu proses transisi dari rumah ke play group.
5. Bersiap-siaplah menghadapai perasaan takut berpisah. Hal ini normal dan wajar.
6. Jangan menungguinya. Hal ini aka mempersulit bagi orang tua dan anak untuk mengembangkan emosinya. Ingatlah banyak anak yang menolak pergi ke play group dan sekolah tapi kemudian keluar dengan wajah berseri-seri. Inilah harapan kita bersama.
(Sumber: Ensiklopedi Perkembangan Anak)

Ber - 'Idul Fitri Ala KBAT Birrul Walidain

Lebaran tiba....semangat baru pun tiba....

Hari pertama masuk seklah setelah lebaran, terasa ada yang beda. Setelah libur akhir puasa dan lebaran kini kembali ke sekolah.

Anak-anak terlihat ceria dan senang karena mereka mengenakan baju barunya. Walau libur lama, tetapi tetap semangat ke sekolah.

Hari itupun diadakan halal bi halal, dengan penjelasan ari bu guru dan sambutan dari Bu Opik, anak-anak pun mulai faham makna lebaran. Mulai faham untuk minta maaf dan memaafkan pada orang tua, guru dan temanya.

"Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Lailahaillallahu Allahu Akbar Allahu akbar walillahil hamd..." Anak-anak tampak kompak, senang dan semangat dalam bertakbir. Acara halal bi halal pun disertai dengan bersalam-salaman dengan guru-guru dan juga teman-teman.

Sebelum pulang, anak-anak berkesempata berfoto bersama. ( Bu Heni_)